Home >> Kelainan Jantung Akibat Patah Hati

Tag: Apa akibat jantung bisa patah hati ?

Kelainan Jantung Akibat Patah Hati

Kelainan jantung akibat patah hati atau suka disebut broken heart syndrome secara medis patah hati merupakan penyakit jantung yang nyata dan benar terjadi.

Selamat datang di situs resmi milik alfian herbal yang merupakan agen resmi pusat penjualan obat herbal produk green world yang aman dikonsumsi dan mudah di dapatkan hanya di pihak alfian herbal. Pada kesempatan kali ini kami akan berbagi informasi mengenai kelainan jantung akibat patah patah hati.

Kelainan jantung akibat patah hati alias sindrom patah hati atau disebut juga Tako-tsubo cardiomyopathy adalah salah satu bentuk kelainan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler (jantung). Pada sinrom patah hati terjadi gangguan fungsi bagian jantung yaitu ventrikel, yang berhubungan dengan ketidakcukupan aliran darah melalui arteri koroner (pembuluh jantung yang menghidupi jantung). Sindrom ini memiliki banyak nama yang terdengar rumit, di antaranya transient left ventricular apical ballooning syndrome atau stress cardiomyopathy atau ampulla cardiomyopathy atau neurogenic myocardial stunning.

patah-hati-tingkatkan-risiko-stroke-dan-penyakit-jantung-227799-1

Tahun 1986, di Massachusetts General Hospital dilaporkan satu kasus gagal jantung akibat stres emosional berat. Mulai tahun 2000, banyak publikasi kasus broken heart syndrome dari seluruh dunia. Pada akhirnya, di tahun 2006,stress cardiomyopathy resmi diklasifikasikan dalam kelompok acquired cardiomyopathies, alias kardiomiopati yang didapatkan (bukan diturunkan). Ini membuktikan bahwa ada banyak faktor selain penyakit jantung koroner yang dapat menyebabkan serangan jantung, salah satunya masalah psikologi. Riwayat adanya stress emosional yang berat juga menjadi pembeda sindrom patah hati dengan penyakit jantung koroner.

Siapa saja yang dapat terkena kelainan jantung akibat patah hati?

Sindrom patah hati tergolong dalam kelainan psikosomatis yang spesifik pada sistem kardiovaskuler. sindrom patah hati dijumpai pada 86-100% wanita berusia sekitar 63-67 tahun. Sebagian besar kasus sindrom patah hati dialami wanita setelah masa menopause. Walau begitu, sindrom patah hati dapat menyerang semua usia tanpa terkecuali, jika terdapat riwayat stress emosional yang berat dan tidak mendapat terapi yang mencukupi.

Di Amerika Serikat, sindrom patah hati dialami oleh 4,78% pasien dengan gambaran klinis STEMI atau unstable angina, sebuah gambaran yang mirip penyakit jantung koroner. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus Sindrom patah hati belum diketahui dan hanya sebatas pada laporan kasus.

Faktor pemicu Kelainan jantung akibat patah hati

Kelainan jantung akibat patah hati tidak disebabkan oleh sumbatan pada pembuluh darah jantung. Stresor sebagai satu-satunya faktor pemicubroken heart syndrome dan dikelompokkan menjadi stres emosional dan stres fisik. Setidaknya satu macam strees terdeteksi pada 98% penderita.

Strees Emosional

  • Bencana alam seperti trauma setelah gempa bumi, tsunami, tanah longsor.
  • Krisis uang hingga bangkrut.
  • Terlibat perkara hukum.
  • Pindah ke tempat tinggal baru.
  • Berbicara di depan umum.
  • Menerima kabar buruk.
  • Tekanan atau beban kerja berlebihan.
  • Kecelakaan, kematian. luka/sedera, atau sakit berat yang menimpa anggota keluarga, sahabat, hewan peliharaan.

Strees Fisik

  • Upaya bunuh diri.
  • Penyalahgunaan obat-obat terlarang seperti heroin dan kokain.
  • Prosedur atau oprasi selain jantung seperti: cholecystectomy, histerektomi
  • Mengidap penyakit berat dan menahun yang tidak kunjung sembuh
  • Nyeri berat, misalnya akibat patah tulang, kolik ginjal, pneumothorax, pulmonary embolism
  • Penyakit hipertiroid → tirotoksikosis

Gejala Kelainan Jantung Akibat Patah Hati

  • Nyeri lengan atau punggung.
  • Nyeri dada seperti tertekan benda besar.
  • Napas pendek dan seka napas yang tiba-tiba.
  • Terjadi dengan cepat sesaat setelah mengalami stress yang berat.
  • tenggorokan terasa tercekik.
  • Tiba-tiba pingsan.
  • Nadi tidak teratur dan jantung berdebar-debar.
  • Sebagian kasus bisa mengalami syok kardiogenik (sebuah keadaan di mana jantung tidak bisa memompa darah sesuai kebutuhan tubuh sehingga berdampak kematian).

Mekanisme terjadinya broken heart syndrome

  1. Tekanan stress yang berat bisa memicu keluarnya hormon katekolamin ke pembuluh darah dalam jumlah yang banyak. Hormon ini bersifat toksik di otot jantung sehingga menyebabkan kegagalan kontraksi otot jantung.
  2. Menopause. Hormon estrogen bersifat kardio-protektor. Pada saat menopause terjadi penurunan kadar hormon estrogen dalam pembuluh darah yang menyebabkan penurunan fungsi adrenoreseptor jantung. Hal ini berdampak pada penurunan aktifasi otot jantung. Oleh karena itu, kebanyakan kasus dialami oleh wanita yang tengah menopause.
  3. Rangsangan simpatik yang berlebihan serta ketidaknormalan bentuk anatomis arteri koroner menyebabkan aliran darah berkurang/menghilang sesaat.

Mencegah dan mengobati broken heart syndrome

Pencegahan yang utama adalah manajemen stress. Seorang yang sedang mengalami masalah perlu bersikap dan berpikir dengan luas dan komprehensif. Selalu bijaksana dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan pendekatan. Pola hidup yang seimbang perlu dilakukan, terutama pola makan, aktivitas fisik, dan pola berpikir serta berperilaku.

Sindrom patah hati dapat sembuh tanpa meninggalkan kecacatan permanen pada ventrikel jantung, berbeda dengan penyakit jantung koroner yang meninggalkan sisa pada struktur jantung. Hanya saja, dalam sebagian kasus bisa menyebabkan kondisi yang fatal atau kematian bila pasien yang terserang sindrom patah hati tidak mendapat pertolongan segera. Dokter biasanya memberikan pengobatan suportif.

Sekian informasi yang kami sampaikan semoga bermanfaat, terimakasih sudah berkunjung. Salam sehat!!

Kelainan Jantung Akibat Patah Hati